Hey, apa kalian pernah melakukan wawancara? Pasti
pernah terutama untuk dalam kehidupan sehari-hari. Kita biasanya akan
menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui kepada orang-orang. Yah, wawancara
memang kerap kali digunakan untuk berbagai hal. Namun, wawancara yang kita
lakukan mungkin tidak termasuk formal dan tidak menggunakan teknik-teknik
wawancara. Teknik wawancara yang baik atau formal biasanya digunakan saat
melakukan kegiatan yang memang mengarah ke situasi formal, seperti saat wawancara
dengan guru, konselor, dan atasan.
Bagi kita yang diwawancara, mungkin akan
cukup mudah dalam menjawab pertanyaan yang diberikan, tetapi bagaimana dengan
yang pewawancara? Wawancara yang baik dan benar tidak dapat dilakukan dengan
semudah itu. Banyak keterampilan dasar yang perlu kita pelajari dan dikuasai. Pertama,
kita perlu membina rapport atau
hubungan yang baik dengan orang yang kita wawancara (interviewee). Dalam membina rapport ini, pewawancara (interviewer) harus dapat menciptakan
suasana yang hangat dan nyaman agar interviewee dapat berbicara dengan bebas
dan jujur. Kita dapat memberikan senyuman dan sambutan hangat, berjabat tangan,
mempersilahkan duduk, dan melakukan percakapan kecil. Kita juga harus
menunjukkan ketertarikan dalam pembicaraan dengan interviewee, namun tidak ditunjukkan secara berlebihan. Setidaknya,
kita dapat menunjukkan sikap tulus. Bahasa yang digunakan pun sebisa mungkin
harus setara atau setidaknya menggunakan bahasa Indonesia yag baik dan benar. Sebagai
interviewer, karakteristik ruangan
pun perlu diperhatikan, sehingga ada rasa nyaman selama sesi wawancara
berlangsung.
Kedua, diperlukannya empati terhadap interviewee. Empati yang dimaksud adalah
bagaimana kita dapat merefleksikan atau memahami perasaan, pengalaman, dan
perilaku interviewee. Kita boleh mempersepsikan
jawaban interviewee, tetapi kita juga
tidak boleh langsung menilai atau men-judge
begitu saja. Ketiga, attending behavior.
Di sini, kita dapat mengurangi kuantitas pembicaraan kita dan memberikan waktu interviewee untuk bercerita. Selama interviewee bercerita, interviewer harus mendengarkan dengan
seksama dan tidak boleh melakukan hal lain, seperti memainkan pena, melihat handphone, menggulung baju, atau
kegiatan lainnya yang membuat konsentrasi terganggu. Dalam wawancara, kita juga
memerlukan eye contact agar interviewee tahu bahwa kita benar-benar
memerhatikan, tetapi bukan hanya tatapan kosong yang diberikan. Keempat adalah
teknik bertanya yang ada dua jenis, yaitu open
question dan closed question. Dalam jenis yang open, pertanyaan bersifat tidak mengarahkan dan pertanyaan dapat
dijawab dengan lebih bebas, sehingga informasi yang didapatkan akan lebih
banyak. Misalnya, “Apa yang membuat Anda melakukan hal tersebut?”. Sedangkan,
dalam jenis yang close, pertanyaan
lebih bersifat mengarahkan dan merujuk pada jawaban tertentu (ya/tidak). Misalnya,
“Apakah Anda merasa bahagia?”. Mungkin terlihat lebih mudah dalam penggunaan closed question, tetapi harus
berhati-hati dalam penggunaannya karena jawaban yang diberikan dapat mengarah
pada jawaban yang diinginkan oleh interviewer.
Kelima, kita perlu menguasai keterampilan
observasi selama wawancara. Kita dapat berfokus pada perilaku non-verbal,
verbal, dan konflik, diskrepansi, dan inkongruensi. Perilaku non-verbal
terlihat dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang ditampilkan. Wajah seseorang
dapat menunjukkan emosi seseorang, tetapi kita tidak boleh langsung
menyimpulkan. Perilaku verbal lebih ke arah kata-kata yang diucapkan. Kita juga
harus melihat konflik, diskrepansi, dan inkongruensi, yaitu apakah kata-kata
yang diucapkan sesuai atau terjadi kesenjangan dengan perilaku non-verbalnya. Terakhir,
dibutuhkan active listening skills. Kita harus dapat menceritakan kembali apa
yang sudah diceritakan interviewee
dengan bahasa kita sendiri, tetapi tidak lebih panjang dari cerita asli. Kita juga
harus mencoba mengidentifikasi perasaan interviewee.
Yah, seperti itulah kira-kira keterampilan dasar yang diperlukan. Keterampilan ini
pun tidak dapat diasah Cuma sekali-duakali, tetapi butuh proses yang panjang.
~ Don’t
immediately judge what you see and hear…